Napak Tilas Perjanjian Giyanti 1755
Halo, !
assalaamu 'alaikuum.
Hari ini kita nggak ke mal, nggak ke pantai. Kita lagi di Karanganyar, Jawa Tengah, di depan gapura kecil warna putih ini. Tulisannya kebalik di kamera, tapi kalPERJANJIAN GIYANTI 2.1755."
Kenapa kita ke sini?
Karena tanpa tempat ini, mungkin Yogyakarta tempat kita tinggal sekarang, nggak akan pernah ada, Gaes..
Ini namanya Situs Purbakala Giyanti, di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo. Tempatnya adem, sepi, dijagain pohon beringin gede banget. Nggak nyangka ya, di balik pagar besi putih ini, sejarah Jawa pernah dibelah jadi dua.
[tunjukin plakat/gapura]
Jadi ceritanya, tanggal 13 Februari 1755, di sinilah Pangeran Mangkubumi, Sunan Pakubuwana III, sama VOC tanda tangan perjanjian
Lokasinya ya di sini, Giyanti, yang sekarang masuk Karanganyar
Hasilnya? Mataram yang dulu satu, dipotong jadi dua. Timur Kali Opak dikasih ke Surakarta, baratnya — itu loh, daerah Mataram asli — diserahin ke Pangeran Mangkubumi yang terus diangkat jadi raja dan bergelar Sultan Hamengku Buwono, di Yogyakarta.
Ohya, Gelarnya temang idak ada angka pertama. Setelah kerajaan dilanjutkan penerusnya, baru lah ada gelar Sultan Hamengku Buwono II.
Kebayang nggak?
Satu tanda tangan, lahir dua keraton yang sampai sekarang masih berdiri.
Makanya tadi pas nyampe sini, kita langsung kompak pakai baju kotak-kotak merah. Biar kayak... perjanjian juga, kompak selamanya ya Bu?
Ibu senyum-senyum aja dari tadi. Katanya, tempat sejarah itu nggak harus megah, yang penting kita datang, kita inget.
Jujur, Gaes.. auranya beda banget
Nggak ada tiket masuk, nggak ada pemandu. Cuma gapura, paving blok, sama angin yang lewat sela-sela beringin. Tapi di sini Belanda main politik devide et impera, dan leluhur kita harus milih.
Kita yang hidup di Jogja hari ini, sebenarnya sedang jalan di atas hasil keputusan yang dibuat di tanah ini 270 tahun lalu.
Jadi kalau kalian ke Solo atau Karanganyar, sempatin mampir 15 menit aja ke Situs Giyanti. Nggak buat foto estetik doang, tapi buat ngerasain: oh, ternyata sejarah kita sedekat ini."
Sampai ketemu di napak tilas berikutnya. Dari Giyanti, kami pamit, ya..!
Wassalaamu 'alaikuum!"


Tidak ada komentar:
Posting Komentar