Sabtu, 04 Juli 2026

Giyanti, siapa dia?

Napak Tilas Perjanjian Giyanti 1755

Halo, !

assalaamu 'alaikuum.

 Hari ini kita nggak ke mal, nggak ke pantai. Kita lagi di Karanganyar, Jawa Tengah, di depan gapura kecil warna putih ini. Tulisannya kebalik di kamera, tapi kalPERJANJIAN GIYANTI 2.1755."

Kenapa kita ke sini? 

Karena tanpa tempat ini, mungkin Yogyakarta tempat kita tinggal sekarang, nggak akan pernah ada, Gaes..

Ini namanya Situs Purbakala Giyanti, di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo. Tempatnya adem, sepi, dijagain pohon beringin gede banget. Nggak nyangka ya, di balik pagar besi putih ini, sejarah Jawa pernah dibelah jadi dua.

 [tunjukin plakat/gapura]

Jadi ceritanya, tanggal 13 Februari 1755, di sinilah Pangeran Mangkubumi, Sunan Pakubuwana III, sama VOC tanda tangan perjanjian

 Lokasinya ya di sini, Giyanti, yang sekarang masuk Karanganyar

Hasilnya? Mataram yang dulu satu, dipotong jadi dua. Timur Kali Opak dikasih ke Surakarta, baratnya — itu loh, daerah Mataram asli — diserahin ke Pangeran Mangkubumi yang terus diangkat jadi raja dan bergelar Sultan Hamengku Buwono, di Yogyakarta. 

Ohya, Gelarnya temang idak ada angka pertama. Setelah kerajaan dilanjutkan penerusnya, baru lah ada gelar Sultan Hamengku Buwono II.

Kebayang nggak? 

Satu tanda tangan, lahir dua keraton yang sampai sekarang masih berdiri.

Makanya tadi pas nyampe sini, kita langsung kompak pakai baju kotak-kotak merah. Biar kayak... perjanjian juga, kompak selamanya ya Bu?

Ibu senyum-senyum aja dari tadi. Katanya, tempat sejarah itu nggak harus megah, yang penting kita datang, kita inget.

Jujur, Gaes..  auranya beda banget

Nggak ada tiket masuk, nggak ada pemandu. Cuma gapura, paving blok, sama angin yang lewat sela-sela beringin. Tapi di sini Belanda main politik devide et impera, dan leluhur kita harus milih.

Kita yang hidup di Jogja hari ini, sebenarnya sedang jalan di atas hasil keputusan yang dibuat di tanah ini 270 tahun lalu.

Jadi kalau kalian ke Solo atau Karanganyar, sempatin mampir 15 menit aja ke Situs Giyanti. Nggak buat foto estetik doang, tapi buat ngerasain: oh, ternyata sejarah kita sedekat ini."

Sampai ketemu di napak tilas berikutnya. Dari Giyanti, kami pamit, ya..!

Wassalaamu 'alaikuum!"

Senin, 29 Juni 2026

Panggung Krapyak: Menyingkap Bangunan Misterius di Ujung Selatan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang Jarang Diketahui Orang

Tahu gak, bagaimana sih eksotik nya bangunan ini?

Panggung Krapyak

https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/assets/uploads/files/foto/panggung-krapyak/97d75e83654172a9daac6848f031d5c0.jpg

"Banyak orang mengenal Tugu Yogyakarta dan Malioboro. Namun hanya sedikit yang memahami bahwa perjalanan filosofi Yogyakarta sesungguhnya berakhir di sebuah bangunan kuno yang tampak sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam: Panggung Krapyak."

---

Panggung Krapyak, Bangunan yang Sarat Makna

Di sisi selatan Kota Yogyakarta, sekitar dua kilometer dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, berdiri sebuah bangunan berbentuk panggung batu berdenah persegi yang dikenal sebagai Panggung Krapyak. Bangunan ini merupakan salah satu penanda utama Sumbu Filosofi Yogyakarta, sebuah poros budaya yang membentang dari Tugu Pal Putih – Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat – hingga Panggung Krapyak.

Walaupun bentuknya sederhana, bangunan ini menjadi saksi perjalanan sejarah Keraton Yogyakarta selama lebih dari dua abad.

---

Literasi Nama "Panggung Krapyak"

Nama Panggung Krapyak berasal dari dua kata.

Panggung berarti bangunan yang ditinggikan atau tempat untuk melihat dari ketinggian.

Sedangkan Krapyak merupakan nama kawasan yang pada masa Kerajaan Mataram dahulu dikenal sebagai hutan perburuan kerajaan. Kawasan ini dipenuhi semak belukar dan habitat berbagai satwa, terutama rusa dan kijang.

Karena itulah bangunan ini dikenal sebagai Panggung Krapyak, yaitu panggung yang berada di kawasan Krapyak.

---

Tata Letak yang Tidak Pernah Dipilih Secara Kebetulan

Jika diperhatikan dari udara, posisi Panggung Krapyak berada tepat pada garis lurus imajiner yang menghubungkan:

Gunung Merapi → Tugu Pal Putih → Malioboro → Titik Nol Kilometer → Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat → Alun-alun Selatan → Panggung Krapyak → Laut Selatan.

Sumbu filosofi


Inilah yang kemudian dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta, yang tidak hanya menggambarkan tata ruang kota, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan masyarakat Jawa.
Panggung Krapyak berada di ujung selatan sumbu tersebut sebagai simbol akhir perjalanan manusia menuju Sang Pencipta.

---

Apa Fungsi Panggung Krapyak?

Dalam catatan sejarah, bangunan ini memiliki beberapa fungsi.

1. Menara Pengamatan Berburu

Pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I, kawasan Krapyak merupakan hutan berburu kerajaan.

Sultan beserta para prajurit menggunakan bangunan ini sebagai tempat mengawasi jalannya perburuan rusa dan satwa lainnya.

---

2. Bangunan Pertahanan

Posisinya yang tinggi juga memungkinkan bangunan ini difungsikan sebagai titik pengamatan keamanan kawasan selatan Keraton.

---

3. Penanda Filosofi

Seiring perkembangan waktu, fungsi fisiknya berubah menjadi simbol budaya.

Kini Panggung Krapyak dipahami sebagai salah satu titik utama dalam konsep Sangkan Paraning Dumadi, yaitu perjalanan manusia dari asal mula kehidupan hingga kembali kepada Sang Pencipta.

---

Siapa yang Menggunakan Bangunan Ini?

Pada masa lampau, Panggung Krapyak bukanlah bangunan untuk masyarakat umum.

Bangunan ini digunakan oleh:

-  Sri Sultan Hamengkubuwono I

-  Keluarga Keraton

-  Prajurit Keraton

Abdi Dalem yang bertugas dalam kegiatan perburuan kerajaan

Saat ini bangunan tersebut menjadi situs cagar budaya yang dapat dinikmati masyarakat sebagai warisan sejarah.

Alas Krapyak sebagai refreshing Sultan


---

Apa Keistimewaan Panggung Krapyak?

Ada beberapa hal yang menjadikan bangunan ini sangat istimewa.

Bagian dari Sumbu Filosofi Dunia

Panggung Krapyak merupakan salah satu elemen utama Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO.

---

Berusia Lebih dari Dua Abad

Bangunan ini dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I sekitar abad ke-18 dan tetap berdiri hingga sekarang.

---

Arsitektur yang Unik

Bangunan memiliki bentuk panggung batu dengan dinding yang sangat tebal dan bagian atas yang dahulu diyakini berfungsi sebagai ruang pengamatan.
Arsitekturnya memperlihatkan perpaduan fungsi militer, simbolik, dan budaya Jawa.

---

Simbol Filosofi Kehidupan

Berbeda dengan bangunan bersejarah lainnya, nilai utama Panggung Krapyak justru terletak pada makna filosofinya.

Ia menjadi simbol perjalanan hidup manusia menurut pandangan kosmologi Jawa.

---

Hubungannya dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Panggung Krapyak dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I sebagai bagian dari rancangan besar tata ruang Keraton Yogyakarta.
Bersama Tugu Pal Putih di utara dan Kraton di tengah, bangunan ini membentuk garis lurus yang menjadi identitas Kota Yogyakarta.

Dalam pandangan budaya Jawa:

Tugu Pal Putih melambangkan asal kehidupan dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat melambangkan kehidupan manusia di dunia, tempat pemimpin menjalankan amanah untuk rakyat.
Panggung Krapyak melambangkan perjalanan kembali menuju asal kehidupan atau kesempurnaan spiritual.
Karena itu, ketiga titik tersebut tidak dapat dipisahkan sebagai satu kesatuan filosofi.

---

Bagaimana nuansa Panggung Krapyak dulu.


Hubungannya dengan UNESCO

Pada tahun 2023, Sumbu Filosofi Yogyakarta resmi ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO (World Heritage).

Penetapan tersebut tidak hanya mencakup Tugu dan Kraton, tetapi juga seluruh elemen penting yang membentuk sumbu budaya tersebut, termasuk Panggung Krapyak.

UNESCO menilai kawasan ini sebagai contoh luar biasa tata kota yang memadukan:

Arsitektur

Tata ruang

Kosmologi Jawa

Kepemimpinan budaya

Hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Dengan demikian, Panggung Krapyak bukan sekadar bangunan tua, melainkan bagian dari warisan budaya dunia yang memiliki nilai universal luar biasa (Outstanding Universal Value).

---

Penutup

Ketika berkunjung ke Yogyakarta, jangan hanya berhenti di Malioboro atau Tugu Pal Putih. Luangkan waktu untuk menyusuri ujung selatan Sumbu Filosofi dan berdiri di depan Panggung Krapyak.

Di balik dinding batu yang tampak sederhana, tersimpan kisah tentang kebesaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kecerdasan tata ruang Jawa, serta filosofi kehidupan yang kini telah diakui dunia melalui UNESCO.

Panggung Krapyak mengajarkan bahwa sebuah bangunan tidak hanya dibangun dari batu dan kapur, tetapi juga dari nilai, sejarah, dan kebijaksanaan yang diwariskan lintas generasi.

 -LR-.

Selasa, 04 Februari 2025

BAGAIMANA TENTANG HATI MANUSIA

 

(HATI DALAM PANDANGAN ISLAM MENURUT AL QURAN DAN HADISTS)

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQhDjoAxasn8ZIZdzj-oZdJVCco58vlPlWP78aCvCn-tcVCFfGM2yS_O5g&s

Hati memiliki kedudukan yang agung, ia merupakan salah satu rahasia Allah diatas bumi ini, sebagaimana sang penyair berkata ;

 Hati memiliki rahasia yang tidak bisa dipahami keagungannya…                                                   Kecuali (Allah) Dzat yang menganugerahkannya kepada manusia…

 Oleh karena itu, dalam syariat islam ini, banyak terdapat dalil pengagungan terhadap keagungan hati, dan andai dalam syariat islam tidak terdapat dalil pengagungan terhadapnya kecuali satu hadis saja , maka hal itu telah cukup. Hadis itu terdapat dalam Shahihain dari hadis riwayat Al Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda;

 “Ingatlah ,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad ,ia adalah hati” .

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata ; 

“Adapun makna ketakwaan hati terhadap Allah adalah penghambaan hati yang hanya tertuju kepadaNya dengan setinggi-tingginya penghambaan kepadaNya, dan penghambaan hati ini adalah dengan memberikan setinggi-tingginya kecintaan ,sikap tunduk dan keikhlasan, inilah agama Ibrahim al khalil ‘alaihissalaam, dan ini semua merupakan penjelasan bahwa ibadah hati adalah inti dari semua ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam; “Ingatlah ,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad ,ia adalah hati” .

Semoga Allah merahmati Ibnul Qayim rahimahullah yang berkata dalam “Qashidah Al Nuuniyah”:  

Menempuh perjalanan menuju kepadaNya dengan hati…  

Bukan menempuhnya dengan kendaraan (perjalanan jasad)…

Sungguh sangat tepat ucapan Ahmad bin Khadhrawaih rahimahullah ketika berkata ; ” Hati adalah laksana bejana, jika ia telah dipenuhi oleh kebenaran, maka ia akan menampakkan banyak cahaya pada anggota tubuh lainnya, dan jika hati itu dipenuhi oleh kebatilan, maka ia akan menampakkan banyak kegelapan pada anggota tubuh lainnya”.

Dikisahkan bahwa bacaan Al Quran Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah adalah bacaan yang mengharukan ,sekaligus indah, lambat, dan pelan, seakan-akan bacaan tersebut ditujukan terhadap hati manusia.

 Diantara penjelas yang menunjukkan bahwa Al Quran ditujukan kepada hati ,sebagai beRikut ;

 1.Pada awalnya, Al Quran diturunkan kepada hati.

 Allah ta’ala berfirman ;

 {وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأَمِينُ 193 عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ 194 بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ 195}الشعراء 

 “Dan sungguh (AlQuran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Yang dibawa turun oleh al ruh al amiin (Jibril). Kedalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang member peringatan. Dengan bahasa arab yang jelas. “ (QS Al Syu’araa’ ; 192-195).

 Perhatikan firman Allah ” ‘ala qalbika / Kedalam hatimu”, dan Dia tidak berfirman bahwa Al Quran diturunkan kepada pendengaran, penglihatan, otak atau lainnya, akan tetapi ia diturunkan kedalam hati, dan ini sangatlah jelas.

 Allaah ta'ala juga berfirman ;

 {قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ} (97) سورة البقرة

 “Katakanlah (wahai Muhammad) ; Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang menurunkan Al Quran kedalam hatimu dengan izin Allah” (QS Al Baqarah ; 97)

 Ini menunjukkan bahwa anggota tubuh pertama yang ditujukan kepadanya Al Quran adalah hati, jika hati langsung taat kepadanya ,maka seluruh anggota tubuh akan turut taat, sebaliknya jika ia berpaling maka seluruh anggota tubuh juga akan berpaling.

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Al Tuhfah Al ‘Iraqiyah” setelah menjelaskan masalah hati ,beliau berkata ; ” Dan apa yang telah kami jelaskan ini menunjukkan bahwa inti agama ini pada hakikatnya adalah perkara-perkara batin (hati) berupa ilmu dan amalan-amalan hati, adapun amalan-amalan dzhahir (anggota tubuh) maka ia tidak bermanfaat tanpa adanya amalan hati”3.

Sebab itulah, hati Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam telah dipersiapkan dan disucikan sebelum Al Quran ini diturunkan kepadanya, sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu’anhu meriwayatkan ; “Bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam didatangi oleh Jibril dan ia sedang bermain bersama dengan anak-anak (seusianya), Lalu Jibril mengambil, dan membaringkannya lalu membelah dadanya dan mengeluarkan hatinya (untuk dicuci) ,lalu Jibril mengeluarkan dari hati tersebut gumpalan daging ,dan berkata ; “Ini adalah bagian Syaithan dari dirimu…”. (HR Muslim dan Bukhari juga meriwayatkan dengan lafaz yang hampir sama dengan ini).

Para sahabat juga telah banyak mengisahkan keadaan hati mereka ketika pertama kali mendengarkan bacaan Al Quran ,sebagaimana diantaranya dalam Shahihain dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im ,dari ayahnya ,bahwa ia berkata ;

 سمعت النبي  يقرأ في المغرب بالطور فلما بلغ هذه الآية {أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بَل لا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِندَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ (37)} سورة الطور ، كاد قلبي أن يطير .

 “Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membaca Surat Al Thuur pada shalat maghrib,ketika beliau sampai pada ayat ; “Ataukah mereka tercipta tanpa asal usul ataukah mereka yang menciptakan ( diri mereka sendiri) ?.Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi ? sebenarnya tidak meyakini (apa yang mereka katakana). Ataukah disisi mereka ada perbendaharaan tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa ? (Al Thur 35-37).Maka hatikupun seakan hampir tercabut”.

Juga seperti itulah yang diriwayatkan dari para salaf ketika mereka pertama kali mendengarkan Al Quran dengan sepenuh hati.

Yunus Al balkhi meriwayatkan ; “Dulu, Ibrahim bin Adham rahimahullah berasal dari keluarga terpandang, ayahnya memiliki banyak harta, pembantu, kendaraan, ,Maka suatu ketika Ibrahim sedang berburu dengan mengendarai kudanya ,tiba-tiba ada suara terdengar dari atasnya ; “Wahai Ibrahim, apa gunanya perbuatan sia-sia ini, Allah berfirman :

 {أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ} (115) سورة المؤمنون

 “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?” (Al Mukminun ; 115). Bertakwalah kepada Allah, persiapkanlah bekal untuk hari kemiskinan (kiamat).” Maka Ibrahimpun turun dari kudanya dan kemudian bersungguh-sungguh beramal untuk akhirat.”4

Al Fadhl bin Musa berkata ; “Dahulu Al Fudhail bin ‘Iyaadh adalah seorang penyamun yang suka membajak jalan, dan kisah sebab taubatnya adalah saat ia mencintai seorang wanita ,maka ketika ia memanjat dinding agar bisa bertemu dengannya, ia mendengar seseorang membaca ayat ;

 {أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ} (16) الحديد

 “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)” (Al Hadiid ; 16). Mendengar ayat ini, Al Fudhail berkata ; “Wahai tuhanku, telah tiba waktunya (untuk bertaubat)”. Lalu iapun pulang sehingga ketika hari telah gelap ia tiba disuatu bangunan yang telah roboh, didalamnya ada sebuah kafilah, sebagian mereka berkata : “mari kita melanjutkan perjalanan”, tapi sebagian yang lain berkata ; “jangan dulu, sampai datang waktu pagi karena Fudhail telah berada dijalan dan akan membajak kita”. Akan tetapi Fudhail telah bertaubat dan iapun memberikan keamanan terhadap kafilah tersebut.Lalu ia menetap diMakkah ,menghabiskan sisa umurnya beribadah kepada Allah sampai ia wafat.”5

 

2.Banyaknya penyebutan kata “hati” dalam Al Quran,

 Kata hati dengan lafaz “al qalbu, al fu-aad, dan al shadr” begitu banyak terdapat dalam ayat Al Quran, ayat-ayat tersebut secara khusus menyandarkan kata “hati” tanpa menyebutkan anggota tubuh lainnya. Saya telah mendapatkan sekitar 40 sifat yang disandarkan oleh Al Quran terhadap hati, semuanya merupakan sifat yang memiliki pengaruh yang sangat penting. Dibawah ini saya akan menyebutkan semuanya demi satu tujuan yaitu bahwa dengan menghayati semua ayat-ayat ini dapat menyadarkan hati kita akan betapa pentingnya sifat-sifat “hati” ini, adapun makna dan penafsirannya maka nanti akan ada penjelasannya (dalam risalah lainnya), insyaAllah. 

Diantara sifat-sifat yang disandarkan pada hati tersebut adalah :

 1.Al Taqwa (sifat takwa) ;

 وَصْفُ التقوى {ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ} (32)الحج

 “Demikianlah (perintah Allah) , dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati” (QS Al Hajj ; 32)

 2.Al Khusyu’ (sifat tunduk dan rasa takut) ;

 {أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ} (16) سورة الحديد

 “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyu’ mengingat Allah… ” (Al Hadiid ; 16).”

 3.Al Hidayah (petunjuk) ;

 {وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} (11) سورة التغابن

 “Dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan member petunjuk kepada hatinya .Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu” (QS Al Thaghabun ; 11)

 4.Al Ra’fah Wa Al Rahmah (rasa santun dan kasih sayang) ;

 {وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً} (27) الحديد

 

“…dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya…” (QS Al Hadid ; 27).

 5.Al Ulfah (persatuan) ;

 {وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ} (63) الأنفال

 “Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang beriman).Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada dibumi ,niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka …” (QS Al Anfaal ; 63)

 Inilah diantara sifat hati yang ada dalam Al Quran ,menghayati empat sifat dari semua sifat ini telah cukup membuktikan keagungan hati bagi orang yang benar-benar menghayatinya. Hayatilah hubungan erat antara Al Quran dan hati dalam ayat-ayat ini secara berulang-ulang ,lalu rasakan pengaruh yang didapatkan oleh hatimu darinya.

 3.Pengaruh Terbesar dari Al Quran adanya di dalam hati.

 Kebaikan terbesar yang didapatkan oleh orang yang senantiasa memperhatikan dan menghayati Al Quran adalah kelembutan dan kesucian hati, sebaliknya penyakit terbesar yang menimpa orang yang berpaling dari Al Quran adalah kematian dan kerasnya hati, sebab itu nasehat quraniyah hanyalah bisa diterima dan dilakukan oleh orang yang memiliki hati yang menghayati Al Quran, atau orang yang berusaha memperbaiki keadaan hatinya dengannya, sebagaimana firman Allah ta’ala ;

 {إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ} (37) سورة ق

 “Sungguh pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya” (QS Qaaf ; 37)

 Allah ta’ala juga telah memperingatkan dampak negatif berpaling dari Al Quran yaitu diharamkannya hati dari cahaya wahyu (petunjuk Al Quran), sebagaimana firmanNya ;

  أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا  (24) سورة محمد

 “Maka tidakkah mereka menghayati Al Quran ,ataukah hati mereka sudah terkunci ?”                 (QS Muhammad ; 24).

 Tentang ayat :

 {قُلْ آمِنُواْ بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُواْ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّدًا} (107) سورة الإسراء

 “Katakanlah (Wahai Muhammad) ; berimanlah kamu kepadanya (Al Quran) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya ,apabila (Al Quran) dibacakan kepada mereka ,mereka menyungkurkan wajah ,bersujud “ (QS Al Israa’ 7).

Imam Abdul A’laa Al Tamimi rahimahullah berkata ; 

“Sesungguhnya barangsiapa yang diberikan ilmu tapi tidak membuatnya menangis (ketika menghayati Al Quran -pent), maka ia memang telah diberikan ilmu yang tidak bermanfaat bagi dirinya, karena Allah ta’ala telah menyebutkan sifat ahli ilmu yang hakiki dengan firmanNya ; “ apabila (Al Quran) dibacakan kepada mereka , mereka menyungkurkan wajah ,bersujud “.

 Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata ; “Seseungguhnya hati ini adalah laksana bejana, maka isi dan sibukkanlah ia dengan Al Quran dan jangan diisi dan disibukkan dengan selainnya”.

 Diantara ucapan para salaf yang popular ; “Sesungguhnya ilmu itu adalah khasy-yah (rasa takut dan tunduk kepada Allah)”.

 Tentang ayat ;

 {بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الظَّالِمُونَ} (49) سورة العنكبوت

 “Sebenarnya (Al Quran) itu adalah ayat-ayat yang jelas didalam dada orang-orang yang berilmu .Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami”. (QS Al Ankabut ; 49). 

Al Hasan Al Bashri rahimahullah menafsirkannya dengan berkata ; lafaz ” Sebenarnya itu adalah ayat-ayat yang jelas” , maknanya adalah Al Quran, dan lafaz ; ” didalam dada orang-orang yang berilmu”, maknanya adalah orang-orang yang beriman”.

 Ibnu Katsir rahimahullah berkata ; ” (Al Quran adalah ayat-ayat yang jelas) karena ia terjaga dalam dada orang beriman, dimudahkan pada lisan untuk membacanya, menjaga kesucian hati serta memiliki mukjizat baik dari segi makna ataupun lafaznya”.

 Dalam “Mursal Al Hasan rahimahullah”, ia berkata ; ” Ilmu ada dua macam ; 1).ilmu yang ada dalam hati, inilah ilmu yang bermanfaat…2).ilmu yang hanya ada pada lisan, ini adalah hujjah Allah yang mencelakakan hamba (yang memilikinya).”

 Jadi bagi para salaf, tolak ukur ilmu dan iman itu bukanlah hanya pada banyaknya ilmu dan bacaan/hafalan ,tapi ia adalah rasa khusyu’ dan khasy-yahnya/ketundukan hati terhadap Allah ta’ala.

 Dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda ;

 (التَّقْوَى هَاهُنَا) وَأشَارَ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاثَ مَرَّات .

 “Takwa adalah disini – sambil beliau menunjuk dadanya tiga kali- ” .

 Dalil-dalil lainnya tentang masalah ini begitu sangat banyak,akan tetapi disini saya hanya akan menyebutkan beberapa amalan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ,lalu para salaf rahimahumullah.

 Dalam “Kutub Al Sunan”, dari sahabat Abdullah bin Al Syakhir radhiyallahu’anhu ,ia berkata ;

 (رأيت رسول الله  يصلي بنا وفي صدره أزيز كأزيز المِرجَل من البكاء)

 “Saya melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sedangkan ia sedang mengimami shalat kami, dan dari dadanya terdengar suara mendidih seperti suara air yang mendidih karena disebabkan tangisannya”. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim, dan Ibnu Hajar berkata dalam “Al Fath Al Baari ” ; “sanadnya qawiy (kuat)”.

 Juga diriwayatkan oleh Ahmad, Al Nasai dan Al Hakim dari hadis Abu Dzar radhiyallahu’anhu ; “Bahwasanya Rasulullah shallallau’alaihi wasallam berdiri shalat malam dengan satu ayat yang ia ulang-ulangi terus sampai pagi “, dan ayat itu adalah ;

  إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  (118) المائدة

 “Jika engkau menyiksa mereka maka sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hambaMu dan jika engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al Maaidah ; 118)” .

Hadis ini dinilai shahih oleh Al Nasai dan Al Hakim, Al Bushiri berkata ; “Hadis ini sanadnya shahih, dan perawi-perawinya tsiqaat”, dan dinilai shahih juga oleh Ibnul Qayim.

 Dalam Kitab “Al Durr Al Mantsur” pada tafsir surat Al A’raf ayat 50 : ketika ahli neraka meminta air dari ahli surga dengan berseru ; “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami”, diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma minum air segar lagi dingin, lalu iapun menangis bahkan tangisannyapun bertambah, iapun ditanya ; “apa yang membuatmu menangis ?”, ia menjawab ; “Saya mengingat ayat dalam Kitab Allah :

 {وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ} (54) سورة سبأ

 “Dan diberi penghalang antara mereka dan apa yang mereka inginkan..” (QS Saba’ ; 54), dan saya sungguh tahu bahwa ahli neraka tidak menginginkan apapun kecuali air segar lagi dingin,

Allah ta’ala telah berfirman ;

 {أَنْ أَفِيضُواْ عَلَيْنَا مِنَ الْمَاء أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ}

 “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami dan dari apa yang Allah rezekikan kepada kalian…”        (QS Al A’raf ; 50).7“

 Dalam Kitab “Shifah Al Shafwah” , Sa’ad bin Zanbur berkata ; “Adalah kami sedang berada didepan rumah Al Fudhail bin ‘Iyadh ,lalu kami meminta izin kepada beliau untuk keluar menemui kami, akan tetapi kami tidak diizinkannya, lalu ada orang berkata ; “Ia (Al Fudhail) tidak akan keluar menemui kalian kecuali kalau ia mendengar bacaan Al Quran”, kebetulan bersama kami ada seorang muadzdzin yang memiliki suara yang indah, lalu kami memintanya untuk membaca surat Al Takaatsur, lalu iapun membacanya dengan suara nyaring, sehingga Fudhail datang menemui kami dengan keadaan menangis hingga jenggotnya basah oleh air mata, lalu ia bersyair ;

 Aku telah mencapai umur delapan puluh atau menghampirinya…

 Lalu apakah yang aku harus nantikan dan angankan…

 Tibalah padaku delapan puluh tahun dari tanggal lahirku…

 Setelah delapan puluh tahun yang tidak dinanti…

 Tahun demi tahun umurku telah buatku sakit hingga buatku lemah…

 Ketika tiba dibait ini, iapun terseduk menangis, dan diantara kami ada Ali bin Khasyram, iapun melanjutkan bait syairnya dengan berkata ;

 Tahun demi tahun umurku telah buatku sakit hingga buatku melemah…

 Melemahkan tulang serta semua penglihatanku…

 

4.Tujuan Utama Tilawah Al Quran ; Tadabbur (Penghayatan) Hati Terhadap Ayat-ayatnya.

 Al Imam Al Suyuti rahimahullah berkata dalam kitabnya “Al Itqan” ; “Disunatkan membaca Al Quran dengan tadabbur (menghayati) dan tafahhum (berusaha memahami ayat-ayatnya), karena hal ini adalah tujuan dan tuntutan paling utama ,dan dengan melakukan hal ini (tadabbur dan tafahhum) hati bisa tentram dan diberikan cahaya petunjuk.”

 Dan Allah ta’ala telah menjelaskan hikmah diturunkannya Al Quran ini dalam firmanNya ;

 فقال  كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الأَلْبَابِ  (29) ص

 “Kitab (Al Quran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran” (QS Shaad ; 29).

Kata “lam” dalam lafaz “li yaddabbaruu” adalah “lam ‘illah/ lam yang berfungsi sebagai penjelas sebab, jadi ini bermakna bahwa Al Quran tidak akan mungkin berberkah secara sempurna pada diri seseorang kecuali jika ia melakukan tadabbur ketika membacanya.

 Allah juga telah berfirman ;

  أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا  (24) سورة محمد

 “Maka tidakkah mereka menghayati Al Quran ,ataukah hati mereka sudah terkunci ?”                    (QS Muhammad ; 24). 

Ayat ini hanya memberikan dua pilihan ,bisa menghayati Al Quran atau jika tidak maka itu tandanya hati telah terkunci dengan banyak kunci. Penyair berkata ;

 Keduanya adalah jalan berbeda, 

tidak ada jalan lain bagi seorang insan kecuali salah satu darinya…

 Maka lihatlah dirimu,apa yang pantas anda pilih untuknya…

 Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mencela orang yang membaca beberapa ayat dan ia tidak menghayatinya, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hibban dan selainnya dari Aisyah radhiyallahu’anha bahwa ia berkata ; 

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda ;

 لقد أنزلت على الليلة آية ؛ ويل لمن قرأها ولم يتفكر فيها 

{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُوْلِي الألْبَابِ}الآيات من آخر سورة آل عمران

 “Malam ini telah diturunkan kepadaku satu ayat, celakalah orang yang membacanya namun ia tidak menghayati maknanya,yaitu ayat“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal”         (QS Aali ‘Imraan ; 190).

 Mungkin tidak lagi terhitung berapa banyak kita telah membaca dan mendengar ayat ini, namun jika kita sedikit saja menghayati ancaman Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ” celakalah orang yang membacanya namun ia tidak menghayati maknanya “, mungkin hati kita bisa berubah.

Simaklah ucapan pemimpin para qari’ dikalangan sahabat Nabi,Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu ketika berkata tentang Al Quran ; 

“Hayatilah ketika kalian membaca keajaiban ayat-ayat Al Quran, gerakkanlah dengannya hati-hati kalian (untuk memahami dan menghayatinya), dan jangan sekali-sekali tujuan utama salah seorang diantara kamu (ketika membaca Al Quran) adalah sekedar menyelesaikannya sampai akhir surat”.

 Saya mengakhiri nukilan ini dengan penjelasan Al Imam Muhammad bin Al Husain Al Ajurri rahimahullah, beliau berkata ; “Sedikit mempelajari Al Quran yang dibarengi dengan memahami dan menghayati ayat-ayatnya, lebih saya cintai daripada banyak belajar Al Quran tapi tidak dibarengi dengan memahami dan menghayati ayat-ayatnya, karena dalil Al Quran dan Sunnah juga ucapan para imam umat islam menunjukkan keutamaan hal tersebut”.

Sebab itu, dalam menyelami keadaan para salaf bersama Al Quran, marilah masing-masing melihat dan intropeksi diri, marilah membandingkan antara keadaan mereka dengan keadaan diri kita, carilah perbedaan keduanya, jika kita masih banyak lalai maka pilihlah jalan mereka, semoga Allah menganugerahkan taufiq kepada anda untuk mensucikan hatimu.

Wahai pembaca Al Quran ! Jika anda hendak membuka lembaran kitab suci Al Quran untuk membacanya, maka terlebih dahulu selamilah hatimu ,apakah hatimu memang benar-benar terbuka untuk menghayatinya ataukah ia telah terkunci ? Semoga Allah memberimu taufiq untuk mendapat petunjuknya.

(Disadur dari Kitab Fann AtTadabbur oleh Syaikh ‘Isham Al ‘Uwayid…diringkas dan diterjemahkan : Ustadz Maulana La Eda).

Sumber dari: https://wahdah.or.id/al-quran-dan-hati/

Jumat, 14 September 2012

5 Orang Yang Didoakan Penghuni Langit

Adakah kita termasuk orang-orang yang didoakan 

oleh para penghuni langit?

--- Hadits Riwayat Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar r.a.---

(Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

Rasulullah SAW bersabda,
 “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa `Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci' " 

--- Hadits Riwayat Imam Muslim dari Ummud Darda’ r.a.---

(Shahih Muslim no. 2733)

Rasulullah SAW bersabda, 
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata `aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”

--- Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.---

(Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

Rasulullah SAW bersabda, 
“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, `Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak‘. Dan lainnya berkata, `Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.’ ”

--- Hadits Riwayat Imam Ibnu Hibban & Imam Ath Thabrani  dari Abdullah bin Umar r.a.---

(Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
  
Rasulullah SAW bersabda, 
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur.”

--- Hadits Riwayat Imam Ahmad  dari Ali bin Abi Thalib r.a.---

(Al Musnad no. 754)

Rasulullah SAW bersabda, 
“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.”

--- Hadits Riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily r.a.---

(Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Rasulullah SAW bersabda, 
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.”

-----***-----

Dengan demikian maka dapat kita simpulkan bahwa  :

Ada 5 Golongan Orang yang didoakan oleh para Malaikat:

  1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
  2. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
  3. Orang – orang yang berinfak.
  4. Orang yang makan sahur.
  5. Orang yang menjenguk orang sakit.
  6. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Semoga bermanfaat.
 Sumber : http://blog.al-habib.info/id/

Minggu, 19 Agustus 2012

3 Amalan Pasca Ramadhan.

"Jika mereka (termasuk orang) yang diterima amalan puasanya, maka apa yang mereka perbuat bukanlah mencerminkan rasa syukur. Dan jika mereka (termasuk orang) yang ditolak amalan puasanya, maka apa yang mereka perbuat bukanlah cermin orang yang khawatir".

Itulah kalimat yang terucap dari seorang ulama zuhud Makkah, Wuhaib bin Al Ward pernah bertemu dengan sekelompok orang yang mengumbar tawa bahagia di hari raya (idul fitri). 
Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Hibban (dalam As Shahih), Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barang siapa mendapati (bulan) Ramadhan, namun ia tidak memperoleh ampunan, maka ia akan masuk neraka dan Allah menjauhi (dari rahmatNya)"
Dalam riwayat  Ali bin Abi Thalib Radliyallaahu Anhu bahwa Rasulullaahu SAW menyeru kepada shahabat, "Wahai, siapa yang diterima amalannya di bulan ini hingga kita memberi selamat kepadanya dan siapa yang tertolak amalannya hingga kita menyampaikan duka cita". 
Diperkuat riwayat dari Ibnu Mas'ud diakhir bulan Ramadhan, Rasulullaahu SAW menyeru : "Wahai, siapa yang diterima amalannya di bulan ini hingga kita memberi (ucapan) selamat kepadanya dan siapa yang tertolak amalannya hingga kita menyampaikan duka cita. Wahai mereka yang diterima, Selamat atas kalian. Wahai mereka yang tertolak, Allah telah menetapkan kepada kalian (berupa) musibah".
Atas kekhawatiran tersebut diatas, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau menuliskan surat kepada seluruh wilayah kekuasaannya agar umat Islam menutup Ramadhan dengan Istighfar, bershadaqah, dan membayar zakat fitrah.  
Karena sesungguhnya, shadaqah dan zakat fitrah dapat mensucikan orang Islam yang berpuasa dari perbuatan tercela, sedangkan istighfar dapat membenahi puasa dari hal-hal yang bersifat merusak. 
Hal senada disampaikan oleh Ibnu Al Munkadar  "Puasa adalah perisai dari api neraka selama ia belum terbakar, dan perkataan buruk adalah pembakar perisai tersebut". Dan Ibnu Dinar menyampaikan bahwa baginya ketakutan (khawatir) tidak diterimanya sebuah amal adalah lebih berat daripada menjalankan amal ibadah itu sendiri.
"Taqobballaahu Minna Wa Minkum "
artinya : "Semoga Allah menerima ibadah kami dan ibadah kalian"

Ucapan diatas, oleh para ulama disyariatkan sebagai doa yang layak dan patut diucapkan ketika umat saling bertemu di hari raya idul fitri, dan hal ini bukan sekadar ungkapan harapan namun merupakan doa yang tulus.
amalan lanjutan sepeninggalnya Bulan Ramadhan yang sebaiknya kita laksanakan antara lain:
  1. TETAP MENJAGA SHALAT WAJIB 5 WAKTU DAN SHALAT JAMA'AH;
  2. MEMPERBANYAK PUASA SUNNAH;
  3. BERPUASA 6 HARI DI BULAN SYAWAL;

Jumat, 20 Juli 2012

Wanita Muslim

Perbincangan 2 laki-laki tentang wanita muslim.

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2009/07/gd-1x1.jpg?w=510
An Nisaa'

Seorang Lelaki inggris bertanya: "Kenapa dalam Islam wanita tdk boleh jabat tangan dengan pria?"
Syaikh menjawab: "Bisakah kamu berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth?

Lelaki inggris menjawab: "oh tentu tidak bisa! tapi hanya orang-orang tertentu saja yang mendapat izin, yang bisa berjabat tangan dengan ratu."

Syaikh tersenyum & berkata: " Wanita2 kami(kaum muslimin) adalah para ratu, & ratu tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan" (yang bukan mahramnya)
Lalu lelaki Inggris bertanya lagi, "Lalu, mengapa perempuan Islam harus menutupi tubuh nya?"
Syekh tersenyum dan  ia mengambil
2 permen miliknya. Permen yang pertama dibuka, dan terus yang satu lagi tetap tertutup. Dia melemparkan keduanya kelantai yang kotor.
Syaikh bertanya: " Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen, mana yang anda pilih?"
Lelaki Inggris spontan menjawab: "kupilih yang tertutup"
Syeikh berkata: " Demikianlah kami memperlakukan dan melihat wanita .)

------

Fragmentum diatas merupakan hikmah pelajaran bagi kita umat muslim agar yakin untuk memperlakukan kaum muslimah dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh indah Islam itu.

Senin, 06 Februari 2012

Menetapkan Tanggal 1 Syawal Hijriyah.

Dasar Syar'i :

“Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berhentilah berpuasa karena melihat hilal”.







Wujudul Hilal 

Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: 
Metode Ijtimak.
Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan pada saat Matahari terbenam. (wikipedia)

  • Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persia dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Sejak Tahun 2000, Persia sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat. 
Metode Imkanur Rukyat.

Metode Imkanur Rukyat. Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan perihal hilal tersebut, apakah memungkinkan atau tidak mungkin untuk melihat hilal. Namun demikian, Hisab Wujudul Hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal Bulan Hijriyah sekaligus penentuan masuknya bulan  dalam kalender baru (Tahun Baru). 

  • Dasar konsideransi adalah dalam QS. Al An-am: 96, dan QS. Ar Rahman: 5, serta penafsiran astronomis atas QS. Yasin: 36-40.


Rukyah Global 

Ada kriteria lain yaitu Rukyah Global. Pada gambar 1 terlihat ada bagian kecil disebelah selatan Afrika dan wilayah selatan Amerika berwarna orange, artinya ada bagian bumi yg bisa melihat hilal dengan tanpa alat. Ini yg disebut kriteria ‘hilal global‘.
Menurut kriteria ini, dimanapun hilal terlihat dimuka bumi ini semestinya berlaku global. Dan sudah saatnya mecukupkan puasa untuk masuk 1 Syawwal.

Dan pada tanggal 29 Agustus sudah ada bagian bumi yang dapat melihat hilal dengan mata tanpa alat. Disebabkan perbedaan posisi geografis yang tidak  sama, maka kriteria yang digunakan pun berbeda. Pada Gambar 1 tersebut berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan. Saat ini, sebagian besar ulama sudah tidak menggunakan rukyah, karena pada tanggal 29 sudah ada daerah dibumi yang dapat menyaksikan hilal.
Rasulullah saw pernah mencontohkan, suatu saat ada sekelompok umat yang tempatnya jauh dari posisi Nabi waktu itu menyatakan melihat hilal. Setelah nabi mendengarnya Beliau menyatakan pernyataan itu sudah sah. Kalau saja saat ini kita bisa “mendengar” ada sekelompok kaum yang sudah menyatakan melihat hilal, apakah seluruh dunia bisa “bersama-sama” berlebaran ?


Penetapan Tanggal 1 Syawwal 1432 H - (Tahun 2011 Masehi).

Memang perintah puasa itu menggunakan penanggalan bulan, namun penentuan waktu berbuka puasa dan waktu sholat dengan indikator waktu menggunakan posisi matahari.Sebagaimana disyariatkan dalam ayat  diatas bahwa manusia wajib berpikir. Sudah lebih dari 14 abad kita masih diliput perbedaan mengenai hal tersebut.
“Taatlah kamu kepada Allah dan Rasulmu dan Pemimpinmu”
Kita sebagai orang yang awam tidaklah salah untuk sekadar mengerti tentang hal yang menyebabkan perbedaan penetapan tanggal 1 Syawal.



Gambar 1 : 29 August 2011



Gambar 2 : 30 August 2011

Keterangan gambar:
  • A = q> 0,216 ----- mudah terlihat dengan mata telanjang 
  • B = -0,014<q<terlihat dengan mata telanjang 0,216 ----- bawah kondisi atmosfer yang sempurna 
  • C = -0,160<q<-0,014 ----- mungkin perlu optik untuk menemukan bulan sabit sebelum dapat dilihat dengan mata telanjang 
  • D = -0,232<q<-0,160 ----- hanya dapat dilihat dengan teropong atau teleskop (kecil) konvensional 
  • E = -0,293<q<-0,232 di bawah batas normal ----- deteksi dengan teleskop (kecil) konvensional 
  • F = q<di bawah batas Danjon (8 °) -0,293 ----- tidak terlihat dengan teleskop (besar) konvensional, 
--------------------------------------------------
Analisa:
  • Perhitungan pada tanggal 29 Agustus 2011 diseluruh daerah Indonesia termasuk di jazirah Arab nampak sulit untuk bisa melihat hilal (bulan). Namun Saudi Arab dalam hal ini tidak mementingkan rukyah dengan alasan bahwa pada thari itu sudah ada daerah dibumi yang dapat menyaksikan hilal. Menurut perhitungan dan bukan pengamatan.
  • Sedangkan pada tanggal 30 Agustus 2011 sore, sudah dapat dipastikan bahwa sebagian besar wilayah di bumi bisa melihat hilal (berwarna orange). Alasan Muhammadiyah menggunakan tanggal 30 Agustus 2011 sebagai tanggal 1 Syawal adalah kriteria Wujudul Hilal.

--------------------------------------------------

Hikmah Perbedaan

Masa lebaran di Indonesia jadi lebih lama menjadi 2-3 hari. Ini akan memberikan waktu lebih leluasa untuk bersilatturahim.             


Ummat menjadi lebih pandai dari pada sekadar mengikuti  alim ulama dan amir (pemerintah) sehingga mengikuti tuntunan secara bijak dan arif.             

Betul tidak? 
Semoga bermanfaat.
Wasalam.

Selasa, 04 Oktober 2011

Orang-Orang yang Berdzikir dan Berdoa

Orang-Orang yang Berdzikir dan Berdoa
Suatu hari, Rasulullah menyampaikan berita kepada sahabat tentang adanya malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan, berkeliling di muka bumi, untuk mencari orang yang selalu berdzikir, mencari majelis-majelis yang berdzikir. Jika malaikat itu menemukan apa yang dicari, maka dia akan berseru kepada malaikat lainnya, “Kemarilah, inilah hajat kalian!”
Lalu para malaikat itu mengelilingi kaum yang sedang berdzikir tersebut, ikut duduk bersama mereka, dengan membentangkan sayap-sayap mereka sampai ke atas langit dunia. Jika orang-orang yang berdzikir tadi selesai melakukan dzikirnya, para malaikat naik ke langit. Pada saat itu Rabb bertanya kepada malaikat – dan Dia Lebih Mengetahui – :
“Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?”
“Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir, bertahmid, dan mengagungkan-Mu” jawab para malaikat.
“Apakah mereka melihat-Ku?” Allah SWT bertanya lagi.
Malaikat: “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu!”
Allah SWT: “Apa yang mereka minta?”
Malaikat: “Mereka meminta Surga kepada-Mu.”
Allah SWT: “Apakah mereka pernah melihatnya?”
Malaikat: “Tidak wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya!”
Allah SWT: “Lantas bagaimana jika mereka melihatnya?”
Malaikat: “Andaikan mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih sangat mendambakannya, lebih sangat menginginkannya, dan lebih senang kepadanya!”
Allah SWT: “Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?”
Malaikat: “Mereka meminta perlindungan dari Neraka.”
Allah SWT: “Apakah mereka pernah melihatnya?”
Malaikat: “Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya.”
Allah SWT: “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”
Malaikat: “Seandainya mereka pernah melihatnya, tentu mereka lebih menjauh daripadanya dan lebih takut daripadanya.”
Lalu Allah SWT berfirman, “Saksikanlah oleh kalian bahwa Aku telah mengampuni untuk mereka.”
Salah satu dari malaikat pun berkata, “Wahai Rabb, di tengah-tengah mereka ada seseorang yang bukan dari golongan mereka. Orang itu datang untuk suatu kepentingan (bukan untuk berdzikir)!”
Allah SWT menanggapinya, “Mereka itu adalah kelompok orang yang tidak akan celaka, siapa pun yang ikut duduk dengan mereka!”___

Maraji’: Hadits Riwayat Bukhari – Muslim. Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah.Sumber : www.dakwatuna.com

Selasa, 27 September 2011

Siapakah Raja Fir'aun Yang Tenggelam di Laut Merah ?


Nama Raja Fir'aun Yang Tenggelam di Laut Merah ? 


Relief Penindasan Raja Fir'aun 
Kisah mengenai Mukjizat Nabi Musa (Mosses) yang membelah Laut Merah dengan tongkatnya untuk menghindari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya tentunya sudah tak asing lagi ditelinga kita.

Siapakah Fir'aun Yang Tenggelam di Laut Merah ?
Ternyata Nama Fir'aun hanyalah sebuah gelar raja (Bukan nama Raja). Hal ini sama seperti di Indonesia ada kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh seorang raja bergelar Sultan Hamengku Buwono yang saat ini dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono X. 
dalam berbagai kisah fir'aun, diceritakan bahwa Raja Fir'aun lah yang tenggelam di laut merah. 

Lalu Fir'aun yang manakah, yang tenggelam di Laut Merah itu?
..... lebih lanjut ,  baca di laman Artikel diatas.

Jumat, 09 September 2011

Iblis, seperti apakah dia ?

"Dialog Nabi Muhammad SAW dengan Iblis"
(oleh : Syeikh Muhyiddin Ibnu 'Araby )


Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam sejahtera semoga senantiasa dilimpahkan kepada seorang nabi yang Ummi, Muhammad saw., dan kepada keluarganya yang bersih serta seluruh sahabatnya yang mulia.


Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal r.a., dari Ibnu Abbas r.a. yang berkisah: ............................
Kami bersama Rasulullah saw di rumah salah seorang sahabat Anshar, dimana saat itu kami di tengah-tengah jamaah. Lalu ada suara orang memanggil dari luar.
"Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku."
Rasulullah bertanya kepada para jamaah,
"Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu?"
Mereka menjawab, 
"Tentu Allah dan RasulNYA yang lebih tahu."
Lalu Rasulullah menjelaskan, 
"Ini adalah iblis yang terkutuk. Semoga Allah senantiasa melaknatnya."
Kemudian Umar r.a. meminta izin kepada Rasulullah sembari berkata, 
"Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?"
...lebih lanjut , silahkan baca di laman Muhammad SAW diatas.

Muttaqin

Menjadi Muttaqin kah kita?


Memasuki Bulan Syawal 1432H ini, kita telah melewati melalui Bulan Ramadhan yang penuh berkah. 
Namun apakah kita telah memperoleh barokah? apakah kita telah memperoleh manfaat? apakah kita termasuk orang yang bertakwa (muttaqin) ? 
Dalam beberapa kali majelis ta'lim dibulan syawal telah banyak disampaikan tausyiah tentang menjadi muttaqin. 
Dan ciri-ciri orang yang muttaqin itu, diantaranya  ada 3 (tiga) golongan yang sering kita dengar dalam majelis ta'lim, walaupun masih ada beberapa ciri-ciri lain pula. 
Yaitu  :

1.        Yunfiquuna fissarrai wa dharraa.
yaitu orang yang menafkahkan hartanya diwaktu lapang dan sempit. 
Jika diwaktu lapang mungkin akan lebih mudah untuk menafkahkan harta, gaji besar dan ketika mendapatkan keuntungan dalam berniaga serta kesenangan lainnya. Tetapi Allah SWT juga memerintahkan agar kita menafkahkan harta diwaktu sempit dimana terkadang orang miskin ini hanya bisa meminta-minta tetapi tidak mau memberi, padahal ciri manusia muttaqin adalah meskipun miskin, kita tetap menafkahkan harta, mungkin kadarnya saja yang berbeda antara ketika lapang dan sempit.
2.        Wal khadziminal ghaidza.
yaitu orang yang bisa dan mampu menahan nafsu amarahnya. 
Memang sulit untuk menahan amarah. Zaman sekarang ini sering kita jumpai orang, sekelompok orang, maupun suatu perkumpulan warga hampir semua bisa marah. Akibat kemarahan yang tak terkendali maka dapat merusak tatanan kehidupan, baik pribadi maupun komunitas dan bermasyarakat. Trend terjadi perselisihan antar kelompok/golongan, antar suku/etnis, bahkan ada yang sampai terbunuh sia-sia, padahal mereka umumnya adalah sesama muslim. 
Adanya perbedaan itu bukan untuk saling bermusuhan, tetapi untuk saling kenal mengenal antara satu dan yang lainnya karena disisi Allah SWT yang dinilai bukan karena sukunya tetapi karena ketaqwaannya. Jangan terperangkap dengan emosi, sebab dengan amarah itu pikiran jadi hilang perasaan mencekam dan pada saat itulah penyakit akan datang. Oleh karena itu, andai saja umat muslim di Indonesia mampu menahan amarah, Insya Allah Indonesia akan aman, dan pemimpin yang sabar menahan amarah maka akan mampu memperhitungkan secara bijaksana dan adil serta memiliki kesermatan yang memadai dalam menyelenggarakan pemerintahan, kepemimpinan dan kelangsungan hidup bernegara yang dicita-citakan bersama.
3.        Wal a’fiina ‘aninnass.
yaitu orang-2 yang bisa memaafkan kepada manusia, memaafkan manusia itu sangat sulit. Ketika seseorang berbuat salah kepada kita kadang-kadang menjadikan hati kita dongkol dan susah untuk memaafkan.
Adapun ciri-ciri lain diantaranya :
1.        Bersikap Empati (Peduli)
yaitu Mampu merasakan perasaan/penderitaan  orang lain (empati). Dalam istilah Jawa dikenal "wang sinawang" bahwa orang lain terlihat tak sebagaimana sebenarnya yang dirasakannya. Mungkin didepan terlihat orang kaya yang serba berkecukupan dan mewah nampak nyaman dan tenteram. Namun dibalik itu kita tidak akan tahu seberapa besar perjuangan dan pengorbanan yang telah dilaluinya. Atau sebenarnya seberapa berat ia menjaga dan menutupi aib bahwa ia sesungguhnya sedang terbelit utang, terjerat perjanjian dan sengketa dan sebagainya. Jadi kita harus bisa menempatkan diri dan empati pada orang lain terutama yang sedang tertimpa musibah, yang sedang menjalani hidupnya dengan perjuangan yang berat agar kita berjalan dimuka bumi ini tidak sombong, tidak pongah (lupa diri) dan mau membantu orang lain tanpa ada tendensi apapun dan semata-mata "dengan dan atas nama Allah" agar kita dapat mencapai derajat muttaqin (orang yang bertaqwa) disisi Allah SWT.
2.        Bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat.
yaitu sebagaimana kita sadari bersama bahwa setiapa manusia dimanapun berada, dan bagaimanapun baik dan bersahaja nya seseorang tidak akan lepas dari salah dan dosa. 


Jumat, 19 Agustus 2011

Iman Yang Sebenarnya


(disampaikan sebagai Kultum Shalat Tarawih, tgl 4 Agustus 2011 oleh Bp. SUBAGYO)
Kita sebagai orang yang memeluk agama Islam tidak boleh berpuas diri dengan predikat seorang Muslim. Karena keislaman seseorang tidak cukup untuk dapat menurunkan pertolongan Allah dalam kehidupan kita di dunia. Keislaman juga belum tentu bisa menyelamatkan kita dari siksa api neraka. Hanya orang-orang yang beriman sejati yang mendapatkan semua janji2Nya yaitu kebahagian dunia dan akhirat.
Bagaimanakah kriteria atau ciri-ciri orang-orang beriman yang sering dipanggil Allah dengan mesra “…yaa ayyuhal ladzina aamanu…..” ? Allah yang Maha Pengasih telah menyebutkan di dalam Al Quran surat Al Anfal :2-4

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.
Dalam firman Allah SWT tersebut jelas sekali menyebutkan bahwa seorang mukmin yang Haq, yang benar-benar tulen, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Hatinya yang gemetar hatinya bila disebutkan Asma Allah
Gemetarnya bisa disebabkan karena banyak hal, karena kagum dan takluk pada Kebesaran Allah. Kebesaran dan Kemuliaan Dzat , Sifat maupun PerbuatanNya. Bisa juga karena takut terhadap siksa api neraka yang sangat pedih dan terbayangkan dosa dan kebodohan yang telah dilakukan. Bisa juga gemetar karena berharap karunia surga – dunia maupun akhirat-. Terkadang gemetar haru mengingat sifat Kasih Sayang dan PengampunNya ataupun gemetar hati karena melihat Kebesaran ciptaanNya.
Asma Allah yang disebutkan dalam Al Quran dan hadits biasa disebut dengan 99 Asmaul Husna (bahkan lebih dari itu) menunjukkan Sifat-Sifat Allah yang Agung yang wajib kita ketahui, fahami dan hayati maknanya. Pemahaman atas makna dan tafakkur pada ciptaan2Nya dan Kebesaran Asma-asma Allah itulah yang dapat menghantarkan seseorang pada “wajilat quluubukum”
2. Keimanannya bertambah bila dibacakan ayat-ayat Tuhan
Ayat dalam bahasa Arab artinya bukti. Orang-orang yang imannya tulen bila dihadapannnya dibacakan ayat Al Quran (dalil naqli) ataupun bukti aqli yang berupa demonstrasi Kebesaran Allah dalam penciptaan makhluk-makhlukNya maka bibirnyapun berucap “ Subhanallah…”. Bila membaca Al Quran yang menyebutkan tentang janji-janji Allah keimanannya bertambah, semangat hidupnya makin membara dan semakin giat beramal shalih.
Dan bila dia melihat Kebesaran Allah dalam penciptaan langit , buni dan jagad raya alam semesta maka diapun makin tunduk dan kagum pada Kuasa Allah. Bahkan ketika melihat betapa sempurna dan hebatnya pasukan-pasukan Allah yang berupa misalnya lebah lebah dan madu yang dihasilkan, maka diapun makin yakin dan kagum pada Allah.
Hari-hari orang beriman tidak pernah ada yang menjemukan. Setiap detik yang dilalui dipakai untuk “melihat” demonstrasi Kekuasaan Allah, bertafakkur dan kemudian bertasbih kepada Allah. Dan itu semua makin meningkatkan imannya.
3. Bertawakkal hanya kepada Allah
Bagi orang yang imannya Haq, tidak pernah ada rasa takut dan gentar menghadapi pernak-pernik dan badai di dalam kehidupan dunia. Ketergantungannya kepada Allah dan keyakinan bahwa Allah selalu menuntun dan melindunginya menjadikan langkahnya pasti menapaki roda kehidupan.
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Putus asa tidak ada dalam kamus hidupnya. Hidup dijalani dengan lapang dan mudah karena jalan keluar dalam tiap masalah, insya Allah ada. Dan rezeki juga sudah ditanggung oleh Allah Azza wa Jalla.
4. Mendirikan Shalat
Mereka ini adalah orang-orang yang gandrung shalat. Shalat menjadi obat segala masalah kehidupan. Persis seperti yang disabdakan junjungan kita Rasulullah SAW :
Apabila engkau mempunyai masalah maka shalat (sunnah) lah 2 rakaat” (HR Bukhari)
Mereka ini bukan sekedar melakukan shalat tapi mendirikannya. Menjaga rukun-rukunnya, waktunya, sunnah-sunnahnya dan juga kekhusyuannya. Shalat merupakan saat-saat yang indah bermunajat kepada Allah, mengadukan beban hidup, memohonkan kemudahan hidup di dunia dan juga kemuliaan hidup di akhirat. Shalat tidaklah menjadi beban bagi mereka bahkan shalat merupakan saat beristirahat dari keruwetan hidup. Dan tepatlah sabda Rasulullah saat menyuruh Bilal adzan dengan berkata : “Wahai Bilal, berilah istirahat kepada kita semua!”
Dan bukti mereka mendirikan shalat adalah akhlaknya di luar shalat. Mengapa ? Karena shalat itulah yang menghalangi mereka berbuat maksiat dan mungkar. Semakin baik mutu shalat maka semakin tinggilah akhlak seseorang
5. Menafkahkan rezeki yang dipunyai
Ciri terakhir seorang mukmin yang tulen adalah mudahnya dia bersedekah. Baginya harta karunia Allah yang didalamnya ada hak fakir miskin. Sedekah adalah tanda syukur kepada Allah kerena diberi kelapangan dalam harta. Tapi dia juga bersedekah dalam keadaan sempit karena jalan kemudahan akan datang dengan derasnya sedekah. Hati orang yang mukmin tidak terikat oleh harta yang dimiliki. Harta diletakkannya di tangan bukan di hati
Demikianlah ciri-ciri seorang mukmin yang Haq, yang tulen. Dan mukmin sejati inilah yang mendapatkan janji Allah yaitu kemuliaan derajat, pengampunan dosa-dosa dan rezeki yang halal dan berkah.
Semoga bahasan ini bisa menjadi jalan intropeksi bagi diri kita masing-masing. Apakah kita sudah mempunyai 5 ciri-ciri di atas ? Bila sudah, kita harus mensyukuri dan meminta Allah mengekalkan sifat-sifat mulia ini dalam diri kita. Bila kita belum memiliki 5 ciri ini maka kita perlu berusaha semaksimal mungkin agar kita bisa menjadi seorang mukmin sejati, yang dicintai Allahu Rabbi.

Disalin dari : blog "Kumpulan Kultum" 
tulisan karya author : Gatot Pramono