(HATI DALAM PANDANGAN ISLAM MENURUT AL QURAN DAN HADISTS)
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQhDjoAxasn8ZIZdzj-oZdJVCco58vlPlWP78aCvCn-tcVCFfGM2yS_O5g&s
Hati memiliki kedudukan yang agung, ia
merupakan salah satu rahasia Allah diatas bumi ini, sebagaimana sang penyair
berkata ;
Hati
memiliki rahasia yang tidak bisa dipahami keagungannya… Kecuali
(Allah) Dzat yang menganugerahkannya kepada manusia…
Oleh karena itu, dalam syariat islam ini,
banyak terdapat dalil pengagungan terhadap keagungan hati, dan andai dalam
syariat islam tidak terdapat dalil pengagungan terhadapnya kecuali satu hadis
saja , maka hal itu telah cukup. Hadis itu terdapat dalam Shahihain dari hadis
riwayat Al Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam bersabda;
“Ingatlah
,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah
seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad ,ia adalah hati” .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata ;
“Adapun makna ketakwaan hati terhadap Allah adalah penghambaan hati
yang hanya tertuju kepadaNya dengan setinggi-tingginya penghambaan kepadaNya,
dan penghambaan hati ini adalah dengan memberikan setinggi-tingginya kecintaan
,sikap tunduk dan keikhlasan, inilah agama Ibrahim al khalil ‘alaihissalaam,
dan ini semua merupakan penjelasan bahwa ibadah hati adalah inti dari semua
ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam; “Ingatlah
,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah
seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad ,ia adalah hati” .
Semoga Allah merahmati Ibnul Qayim
rahimahullah yang berkata dalam “Qashidah Al Nuuniyah”:
Menempuh perjalanan menuju kepadaNya dengan
hati…
Bukan menempuhnya dengan kendaraan
(perjalanan jasad)…
Sungguh sangat tepat ucapan Ahmad bin
Khadhrawaih rahimahullah ketika berkata ; ” Hati adalah laksana bejana, jika ia
telah dipenuhi oleh kebenaran, maka ia akan menampakkan banyak cahaya pada
anggota tubuh lainnya, dan jika hati itu dipenuhi oleh kebatilan, maka ia akan
menampakkan banyak kegelapan pada anggota tubuh lainnya”.
Dikisahkan bahwa bacaan Al Quran Al Fudhail
bin ‘Iyadh rahimahullah adalah bacaan yang mengharukan ,sekaligus indah,
lambat, dan pelan, seakan-akan bacaan tersebut ditujukan terhadap hati manusia.
Diantara penjelas yang menunjukkan bahwa Al
Quran ditujukan kepada hati ,sebagai beRikut ;
1.Pada awalnya, Al Quran diturunkan kepada
hati.
Allah ta’ala berfirman ;
{وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
192 نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأَمِينُ 193 عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ
194 بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ 195}الشعراء
“Dan sungguh (AlQuran) ini benar-benar
diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Yang dibawa turun oleh al ruh al amiin
(Jibril). Kedalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang member
peringatan. Dengan bahasa arab yang jelas. “ (QS Al Syu’araa’ ; 192-195).
Perhatikan firman Allah ” ‘ala qalbika /
Kedalam hatimu”, dan Dia tidak berfirman bahwa Al Quran diturunkan kepada
pendengaran, penglihatan, otak atau lainnya, akan tetapi ia diturunkan kedalam
hati, dan ini sangatlah jelas.
Allaah ta'ala juga berfirman ;
{قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ
نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ} (97) سورة البقرة
“Katakanlah (wahai Muhammad) ; Barangsiapa
yang menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang menurunkan Al
Quran kedalam hatimu dengan izin Allah” (QS Al Baqarah ; 97)
Ini menunjukkan bahwa anggota tubuh pertama
yang ditujukan kepadanya Al Quran adalah hati, jika hati langsung taat
kepadanya ,maka seluruh anggota tubuh akan turut taat, sebaliknya jika ia
berpaling maka seluruh anggota tubuh juga akan berpaling.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya
“Al Tuhfah Al ‘Iraqiyah” setelah menjelaskan masalah hati ,beliau berkata ; ”
Dan apa yang telah kami jelaskan ini menunjukkan bahwa inti agama ini pada
hakikatnya adalah perkara-perkara batin (hati) berupa ilmu dan amalan-amalan
hati, adapun amalan-amalan dzhahir (anggota tubuh) maka ia tidak bermanfaat
tanpa adanya amalan hati”3.
Sebab itulah, hati Nabi Muhammad
shallallahu’alaihi wasallam telah dipersiapkan dan disucikan sebelum Al Quran ini
diturunkan kepadanya, sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu’anhu meriwayatkan
; “Bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam didatangi oleh Jibril dan
ia sedang bermain bersama dengan anak-anak (seusianya), Lalu Jibril mengambil,
dan membaringkannya lalu membelah dadanya dan mengeluarkan hatinya (untuk
dicuci) ,lalu Jibril mengeluarkan dari hati tersebut gumpalan daging ,dan
berkata ; “Ini adalah bagian Syaithan dari dirimu…”. (HR Muslim dan Bukhari
juga meriwayatkan dengan lafaz yang hampir sama dengan ini).
Para sahabat juga telah banyak mengisahkan
keadaan hati mereka ketika pertama kali mendengarkan bacaan Al Quran
,sebagaimana diantaranya dalam Shahihain dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im
,dari ayahnya ,bahwa ia berkata ;
سمعت النبي يقرأ في المغرب بالطور فلما بلغ
هذه الآية {أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا
السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بَل لا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِندَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ
أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ (37)} سورة الطور ، كاد قلبي أن يطير .
“Saya mendengar Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam membaca Surat Al Thuur pada shalat maghrib,ketika
beliau sampai pada ayat ; “Ataukah mereka tercipta tanpa asal usul ataukah
mereka yang menciptakan ( diri mereka sendiri) ?.Ataukah mereka telah
menciptakan langit dan bumi ? sebenarnya tidak meyakini (apa yang mereka
katakana). Ataukah disisi mereka ada perbendaharaan tuhanmu ataukah mereka yang
berkuasa ? (Al Thur 35-37).Maka hatikupun seakan hampir tercabut”.
Juga seperti itulah yang diriwayatkan dari
para salaf ketika mereka pertama kali mendengarkan Al Quran dengan sepenuh
hati.
Yunus Al balkhi meriwayatkan ; “Dulu,
Ibrahim bin Adham rahimahullah berasal dari keluarga terpandang, ayahnya
memiliki banyak harta, pembantu, kendaraan, ,Maka suatu ketika Ibrahim sedang
berburu dengan mengendarai kudanya ,tiba-tiba ada suara terdengar dari atasnya
; “Wahai Ibrahim, apa gunanya perbuatan sia-sia ini, Allah berfirman :
{أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا
وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ} (115) سورة المؤمنون
“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami
menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan
dikembalikan kepada Kami ?” (Al Mukminun ; 115). Bertakwalah kepada Allah,
persiapkanlah bekal untuk hari kemiskinan (kiamat).” Maka Ibrahimpun turun dari
kudanya dan kemudian bersungguh-sungguh beramal untuk akhirat.”4
Al Fadhl bin Musa berkata ; “Dahulu Al
Fudhail bin ‘Iyaadh adalah seorang penyamun yang suka membajak jalan, dan kisah
sebab taubatnya adalah saat ia mencintai seorang wanita ,maka ketika ia
memanjat dinding agar bisa bertemu dengannya, ia mendengar seseorang membaca
ayat ;
{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ
قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ} (16) الحديد
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang
yang beriman untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang
telah diwahyukan (kepada mereka)” (Al Hadiid ; 16). Mendengar ayat ini, Al
Fudhail berkata ; “Wahai tuhanku, telah tiba waktunya (untuk bertaubat)”. Lalu
iapun pulang sehingga ketika hari telah gelap ia tiba disuatu bangunan yang
telah roboh, didalamnya ada sebuah kafilah, sebagian mereka berkata : “mari
kita melanjutkan perjalanan”, tapi sebagian yang lain berkata ; “jangan dulu,
sampai datang waktu pagi karena Fudhail telah berada dijalan dan akan membajak
kita”. Akan tetapi Fudhail telah bertaubat dan iapun memberikan keamanan
terhadap kafilah tersebut.Lalu ia menetap diMakkah ,menghabiskan sisa umurnya
beribadah kepada Allah sampai ia wafat.”5
2.Banyaknya penyebutan kata “hati” dalam Al
Quran,
Kata hati dengan lafaz “al qalbu, al
fu-aad, dan al shadr” begitu banyak terdapat dalam ayat Al Quran, ayat-ayat
tersebut secara khusus menyandarkan kata “hati” tanpa menyebutkan anggota tubuh
lainnya. Saya telah mendapatkan sekitar 40 sifat yang disandarkan oleh Al Quran
terhadap hati, semuanya merupakan sifat yang memiliki pengaruh yang sangat
penting. Dibawah ini saya akan menyebutkan semuanya demi satu tujuan yaitu
bahwa dengan menghayati semua ayat-ayat ini dapat menyadarkan hati kita akan
betapa pentingnya sifat-sifat “hati” ini, adapun makna dan penafsirannya maka
nanti akan ada penjelasannya (dalam risalah lainnya), insyaAllah.
Diantara
sifat-sifat yang disandarkan pada hati tersebut adalah :
1.Al Taqwa (sifat takwa) ;
وَصْفُ التقوى {ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ
اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ} (32)الحج
“Demikianlah (perintah Allah) , dan
barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul
dari ketakwaan hati” (QS Al Hajj ; 32)
2.Al Khusyu’ (sifat tunduk dan rasa takut)
;
{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ
قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ} (16) سورة الحديد
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang
yang beriman untuk secara khusyu’ mengingat Allah… ” (Al Hadiid ; 16).”
3.Al Hidayah (petunjuk) ;
{وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ
بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} (11) سورة التغابن
“Dan barangsiapa beriman kepada Allah
niscaya Allah akan member petunjuk kepada hatinya .Dan Allah Maha Mengetahui
atas segala sesuatu” (QS Al Thaghabun ; 11)
4.Al Ra’fah Wa Al Rahmah (rasa santun dan
kasih sayang) ;
{وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ
رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً} (27) الحديد
“…dan Kami jadikan rasa santun dan kasih
sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya…” (QS Al Hadid ; 27).
5.Al Ulfah (persatuan) ;
{وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ
مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ} (63) الأنفال
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati
mereka (orang beriman).Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada
dibumi ,niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka …” (QS Al Anfaal ;
63)
Inilah diantara sifat hati yang ada dalam
Al Quran ,menghayati empat sifat dari semua sifat ini telah cukup membuktikan
keagungan hati bagi orang yang benar-benar menghayatinya. Hayatilah hubungan
erat antara Al Quran dan hati dalam ayat-ayat ini secara berulang-ulang ,lalu
rasakan pengaruh yang didapatkan oleh hatimu darinya.
3.Pengaruh Terbesar dari Al Quran adanya di
dalam hati.
Kebaikan terbesar yang didapatkan oleh
orang yang senantiasa memperhatikan dan menghayati Al Quran adalah kelembutan
dan kesucian hati, sebaliknya penyakit terbesar yang menimpa orang yang
berpaling dari Al Quran adalah kematian dan kerasnya hati, sebab itu nasehat
quraniyah hanyalah bisa diterima dan dilakukan oleh orang yang memiliki hati
yang menghayati Al Quran, atau orang yang berusaha memperbaiki keadaan hatinya
dengannya, sebagaimana firman Allah ta’ala ;
{إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ
قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ} (37) سورة ق
“Sungguh pada yang demikian itu pasti
terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau menggunakan
pendengarannya sedang dia menyaksikannya” (QS Qaaf ; 37)
Allah ta’ala juga telah memperingatkan
dampak negatif berpaling dari Al Quran yaitu diharamkannya hati dari cahaya
wahyu (petunjuk Al Quran), sebagaimana firmanNya ;
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى
قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (24) سورة محمد
“Maka tidakkah mereka menghayati Al Quran
,ataukah hati mereka sudah terkunci ?” (QS Muhammad ; 24).
Tentang ayat :
{قُلْ آمِنُواْ بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُواْ إِنَّ
الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ
سُجَّدًا} (107) سورة الإسراء
“Katakanlah (Wahai Muhammad) ; berimanlah
kamu kepadanya (Al Quran) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).
Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya ,apabila (Al Quran)
dibacakan kepada mereka ,mereka menyungkurkan wajah ,bersujud “ (QS Al Israa’ 7).
Imam Abdul A’laa Al Tamimi rahimahullah berkata ;
“Sesungguhnya barangsiapa
yang diberikan ilmu tapi tidak membuatnya menangis (ketika menghayati Al Quran
-pent), maka ia memang telah diberikan ilmu yang tidak bermanfaat bagi dirinya,
karena Allah ta’ala telah menyebutkan sifat ahli ilmu yang hakiki dengan
firmanNya ; “ apabila (Al Quran) dibacakan kepada mereka , mereka menyungkurkan
wajah ,bersujud “.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata ;
“Seseungguhnya hati ini adalah laksana bejana, maka isi dan sibukkanlah ia
dengan Al Quran dan jangan diisi dan disibukkan dengan selainnya”.
Diantara ucapan para salaf yang popular ;
“Sesungguhnya ilmu itu adalah khasy-yah (rasa takut dan tunduk kepada Allah)”.
Tentang ayat ;
{بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ
أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الظَّالِمُونَ} (49) سورة العنكبوت
“Sebenarnya (Al Quran) itu adalah ayat-ayat
yang jelas didalam dada orang-orang yang berilmu .Hanya orang-orang yang zalim
yang mengingkari ayat-ayat Kami”. (QS Al Ankabut ; 49).
Al Hasan Al Bashri
rahimahullah menafsirkannya dengan berkata ; lafaz ” Sebenarnya itu adalah
ayat-ayat yang jelas” , maknanya adalah Al Quran, dan lafaz ; ” didalam dada
orang-orang yang berilmu”, maknanya adalah orang-orang yang beriman”.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata ; ” (Al
Quran adalah ayat-ayat yang jelas) karena ia terjaga dalam dada orang
beriman, dimudahkan pada lisan untuk membacanya, menjaga kesucian hati serta
memiliki mukjizat baik dari segi makna ataupun lafaznya”.
Dalam “Mursal Al Hasan rahimahullah”, ia
berkata ; ” Ilmu ada dua macam ; 1).ilmu yang ada dalam hati, inilah ilmu yang
bermanfaat…2).ilmu yang hanya ada pada lisan, ini adalah hujjah Allah yang
mencelakakan hamba (yang memilikinya).”
Jadi bagi para salaf, tolak ukur ilmu dan
iman itu bukanlah hanya pada banyaknya ilmu dan bacaan/hafalan ,tapi ia adalah
rasa khusyu’ dan khasy-yahnya/ketundukan hati terhadap Allah ta’ala.
Dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah
meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda ;
(التَّقْوَى هَاهُنَا) وَأشَارَ إِلَى صَدْرِهِ
ثَلاثَ مَرَّات .
“Takwa adalah disini – sambil beliau
menunjuk dadanya tiga kali- ” .
Dalil-dalil lainnya tentang masalah ini
begitu sangat banyak,akan tetapi disini saya hanya akan menyebutkan beberapa
amalan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ,lalu para salaf rahimahumullah.
Dalam “Kutub Al Sunan”, dari sahabat
Abdullah bin Al Syakhir radhiyallahu’anhu ,ia berkata ;
(رأيت رسول الله يصلي بنا وفي صدره أزيز كأزيز
المِرجَل من البكاء)
“Saya melihat Rasulullah shallallahu’alaihi
wasallam sedangkan ia sedang mengimami shalat kami, dan dari dadanya terdengar
suara mendidih seperti suara air yang mendidih karena disebabkan tangisannya”.
Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim, dan
Ibnu Hajar berkata dalam “Al Fath Al Baari ” ; “sanadnya qawiy (kuat)”.
Juga diriwayatkan oleh Ahmad, Al Nasai dan
Al Hakim dari hadis Abu Dzar radhiyallahu’anhu ; “Bahwasanya Rasulullah
shallallau’alaihi wasallam berdiri shalat malam dengan satu ayat yang ia
ulang-ulangi terus sampai pagi “, dan ayat itu adalah ;
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن
تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (118) المائدة
“Jika engkau menyiksa mereka maka
sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hambaMu dan jika engkau mengampuni mereka,
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al Maaidah ;
118)” .
Hadis ini dinilai shahih oleh Al Nasai dan Al Hakim, Al Bushiri berkata
; “Hadis ini sanadnya shahih, dan perawi-perawinya tsiqaat”, dan dinilai shahih
juga oleh Ibnul Qayim.
Dalam Kitab “Al Durr Al Mantsur” pada
tafsir surat Al A’raf ayat 50 : ketika ahli neraka meminta air dari ahli surga
dengan berseru ; “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami”, diriwayatkan bahwa
Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma minum air segar lagi dingin, lalu iapun menangis
bahkan tangisannyapun bertambah, iapun ditanya ; “apa yang membuatmu menangis
?”, ia menjawab ; “Saya mengingat ayat dalam Kitab Allah :
{وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ}
(54) سورة سبأ
“Dan diberi penghalang antara mereka dan
apa yang mereka inginkan..” (QS Saba’ ; 54), dan saya sungguh tahu bahwa ahli
neraka tidak menginginkan apapun kecuali air segar lagi dingin,
Allah ta’ala
telah berfirman ;
{أَنْ أَفِيضُواْ عَلَيْنَا مِنَ الْمَاء أَوْ
مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ}
“Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami dan
dari apa yang Allah rezekikan kepada kalian…” (QS Al A’raf ; 50).7“
Dalam Kitab “Shifah Al Shafwah” , Sa’ad bin
Zanbur berkata ; “Adalah kami sedang berada didepan rumah Al Fudhail bin ‘Iyadh
,lalu kami meminta izin kepada beliau untuk keluar menemui kami, akan tetapi
kami tidak diizinkannya, lalu ada orang berkata ; “Ia (Al Fudhail) tidak akan
keluar menemui kalian kecuali kalau ia mendengar bacaan Al Quran”, kebetulan
bersama kami ada seorang muadzdzin yang memiliki suara yang indah, lalu kami
memintanya untuk membaca surat Al Takaatsur, lalu iapun membacanya dengan suara
nyaring, sehingga Fudhail datang menemui kami dengan keadaan menangis hingga
jenggotnya basah oleh air mata, lalu ia bersyair ;
Aku telah mencapai umur delapan puluh atau
menghampirinya…
Lalu apakah yang aku harus nantikan dan
angankan…
Tibalah padaku delapan puluh tahun dari
tanggal lahirku…
Setelah delapan puluh tahun yang tidak
dinanti…
Tahun demi tahun umurku telah buatku sakit
hingga buatku lemah…
Ketika tiba dibait ini, iapun terseduk
menangis, dan diantara kami ada Ali bin Khasyram, iapun melanjutkan bait
syairnya dengan berkata ; Tahun demi tahun umurku telah buatku sakit
hingga buatku melemah…
Melemahkan tulang serta semua
penglihatanku…
4.Tujuan Utama Tilawah Al Quran ; Tadabbur
(Penghayatan) Hati Terhadap Ayat-ayatnya.
Al Imam Al Suyuti rahimahullah berkata
dalam kitabnya “Al Itqan” ; “Disunatkan membaca Al Quran dengan tadabbur
(menghayati) dan tafahhum (berusaha memahami ayat-ayatnya), karena hal ini
adalah tujuan dan tuntutan paling utama ,dan dengan melakukan hal ini (tadabbur
dan tafahhum) hati bisa tentram dan diberikan cahaya petunjuk.”
Dan Allah ta’ala telah menjelaskan hikmah
diturunkannya Al Quran ini dalam firmanNya ;
فقال كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الأَلْبَابِ (29) ص
“Kitab (Al Quran) yang Kami turunkan
kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang
yang berakal sehat mendapat pelajaran” (QS Shaad ; 29).
Kata “lam” dalam lafaz
“li yaddabbaruu” adalah “lam ‘illah/ lam yang berfungsi sebagai penjelas sebab,
jadi ini bermakna bahwa Al Quran tidak akan mungkin berberkah secara sempurna
pada diri seseorang kecuali jika ia melakukan tadabbur ketika membacanya.
Allah juga telah berfirman ;
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى
قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (24) سورة محمد
“Maka tidakkah mereka menghayati Al Quran
,ataukah hati mereka sudah terkunci ?” (QS Muhammad ; 24).
Ayat ini hanya
memberikan dua pilihan ,bisa menghayati Al Quran atau jika tidak maka itu
tandanya hati telah terkunci dengan banyak kunci. Penyair berkata ;
Keduanya adalah jalan berbeda,
tidak ada
jalan lain bagi seorang insan kecuali salah satu darinya…
Maka lihatlah dirimu,apa yang pantas anda
pilih untuknya…
Oleh sebab itu Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam mencela orang yang membaca beberapa ayat dan ia
tidak menghayatinya, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hibban dan selainnya dari
Aisyah radhiyallahu’anha bahwa ia berkata ;
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam
bersabda ;
لقد أنزلت على الليلة آية ؛ ويل لمن قرأها ولم
يتفكر فيها
{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
لآيَاتٍ لأُوْلِي الألْبَابِ}الآيات من آخر سورة آل عمران
“Malam ini telah diturunkan kepadaku satu
ayat, celakalah orang yang membacanya namun ia tidak menghayati maknanya,yaitu
ayat“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan
siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” (QS Aali
‘Imraan ; 190).
Mungkin tidak lagi terhitung berapa banyak
kita telah membaca dan mendengar ayat ini, namun jika kita sedikit saja
menghayati ancaman Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ” celakalah orang
yang membacanya namun ia tidak menghayati maknanya “, mungkin hati kita bisa
berubah.
Simaklah ucapan pemimpin para qari’
dikalangan sahabat Nabi,Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu ketika berkata
tentang Al Quran ;
“Hayatilah ketika kalian membaca keajaiban ayat-ayat Al
Quran, gerakkanlah dengannya hati-hati kalian (untuk memahami dan menghayatinya), dan jangan sekali-sekali tujuan utama salah seorang diantara kamu
(ketika membaca Al Quran) adalah sekedar menyelesaikannya sampai akhir surat”.
Saya mengakhiri nukilan ini dengan
penjelasan Al Imam Muhammad bin Al Husain Al Ajurri rahimahullah, beliau
berkata ; “Sedikit mempelajari Al Quran yang dibarengi dengan memahami dan
menghayati ayat-ayatnya, lebih saya cintai daripada banyak belajar Al Quran
tapi tidak dibarengi dengan memahami dan menghayati ayat-ayatnya, karena dalil
Al Quran dan Sunnah juga ucapan para imam umat islam menunjukkan keutamaan hal
tersebut”.
Sebab itu, dalam menyelami keadaan para
salaf bersama Al Quran, marilah masing-masing melihat dan intropeksi diri,
marilah membandingkan antara keadaan mereka dengan keadaan diri kita, carilah
perbedaan keduanya, jika kita masih banyak lalai maka pilihlah jalan mereka,
semoga Allah menganugerahkan taufiq kepada anda untuk mensucikan hatimu.
Wahai pembaca Al Quran ! Jika anda hendak
membuka lembaran kitab suci Al Quran untuk membacanya, maka terlebih dahulu
selamilah hatimu ,apakah hatimu memang benar-benar terbuka untuk menghayatinya
ataukah ia telah terkunci ? Semoga Allah memberimu taufiq untuk mendapat
petunjuknya.
(Disadur dari Kitab Fann AtTadabbur oleh
Syaikh ‘Isham Al ‘Uwayid…diringkas dan diterjemahkan : Ustadz Maulana La Eda).
Sumber dari:
https://wahdah.or.id/al-quran-dan-hati/